Ketika Aku Sudah Tua

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang
semula. Mengertilah,bersabarlah sedikit terhadap
aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku
lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana
dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang
sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah
mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang
cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar
kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku,
jangan marah padaku.Ingatkah sewaktu kecil aku harus
memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang teknologi dan
hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana
dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa”
darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang
masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat
kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita,
berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku,
apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau di
samping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua,janganlah
berduka.Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku
menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani
kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana
menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku
menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan
senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat
cintaku yang tak terhingga untukmu.

***

Kalo ada yang udah baca, sori. Gue cuma mau berbagi aja, soalnya setiap gue baca ini, gue selalu keinget nyokap. Gue yang udah sering banget ngecewain, nyakitin, dsb, tapi nyokap gue terus ngedukung gue, baik dari segi ekonomi maupun kasih sayang.

Thanks mom..

waterbomm said,

May 7, 2008 @ 3:24 pm Quote

ibu - agh ga bisa berkata2 :D

pudakonline said,

May 7, 2008 @ 7:58 pm Quote

mendalam sekali

Okta Sihotang said,

May 7, 2008 @ 8:39 pm Quote

Okta Sihotang wrote:

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan
senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat
cintaku yang tak terhingga untukmu.

dalam bgt uey ;)

nengDJ said,

May 7, 2008 @ 9:51 pm Quote

pak..ni si narsis dataang..hehe
iya..habisnya lagi nunggu dipanggil, tuh dokter nggak tau apa ya gue udah kelaperan..n deg2an juga

salam kenal ya..nice blog..bleh minta imelnyaa?
sama2 suka nulis juga nih aku..

nice blog n nice story! :razz:

antown said,

May 8, 2008 @ 6:08 am Quote

saya juga ada kenalan di blognya dia menggunakan nama Rie, awalnya saya kira si empu blogger ini juga cewek ternyata bukan hehehe, salam kenal

Iko said,

May 8, 2008 @ 8:08 am Quote

Menyentuh :)

Anas said,

May 8, 2008 @ 8:09 am Quote

jeruh iki….

Baby Vay said,

May 8, 2008 @ 9:59 am Quote

Kita emg suka gitu, kalo da gede suka melawan sama orangtua. Tp gt lg sakit ato ada kejadian apa gt yg ingetin ke masa2 kecil, baru deh nyesel…
tp emg manusia gt kok… :) saya jg gt..

anggangelina said,

May 8, 2008 @ 5:00 pm Quote

nice one! aq menangiiiis…. hiks….
jadi sedih nih… soalnya aq bandel banget sama ortu.. hiks… :((

hanggadamai said,

May 9, 2008 @ 7:43 am Quote

makasih ya rie…diriku blm pernah baca

Ayah.. | RiE, Kata Hati dan Inspirasi said,

May 10, 2008 @ 6:33 pm Quote

[...] kita selalu saja memuji-muji ibu kita. Tapi ternyata, ayah juga benar-benar [...]

No name no problem ?! said,

May 20, 2008 @ 6:26 pm Quote

Gitu ya, Rie
Bagus postingnya, seperti posting2 yg laen

Human life for generations until the end

Nice to meet ya

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI


Leave a Comment

:razz: :mrgreen: :) :( :P :oops: :lol: more »